26 April 2008

SAAT CINTA BERLABUH DI BANK SYARIAH


(Kisah nyata perjalanan penulis bergabung dengan bank syariah)

Oleh : Alihozi


Pada bulan Juni 2001,saya mendapat panggilan untuk mengikuti test kerja di salah satu bank syariah ternama di daerah Jakarta, waktu itu saya masih bekerja di perusahaan retail besar milik etnis tionghoa yaitu Indomaret sebagai senior staff accounting & tax. Saya mempersiapkan sebaik mungkin untuk mengikuti test di bank syariah tsb, dengan membaca buku – buku yang membahas bank syariah dan buku pertama mengenai bank syariah yang saya baca berjudul “Pengantar Ekonomi Islam” karya Ibrahim Lubis.

Sebelum membaca buku tsb saya termasuk orang yang masih meyakini bahwa bunga bank adalah bukan riba yang diharamkan Allah, SWT karena waktu itu saya sudah membaca tulisan – tulisan karya sebagian Ulama yang tidak mengharamkan bunga bank. Setelah membaca buku karya Ibrahim Lubis tsb, fikiran dan hati saya menjadi sadar , dengan argumentasi yang meyakinkan Pak Ibrahim Lubis menjelaskan bahaya bunga bank bagi ummat manusia. Beliau mengatakan “Bahwa orang yang menghalalkan bunga bank dengan dalih bunga bank untuk membayar biaya operasional bank seperti untuk membayar gaji karyawan , biaya sewa kantor adalah tidak tepat karena bunga bank bisa menimbulkan masalah besar bagi ummat apabila situasi ekonomi tidak stabil misalnya bencana alam, kebakaran atau krisis ekonomi.

Adalah tidak adil apabila orang yang sedang mengalami musibah karena bencana alam atau karena hal lainnya harus terus menerus membayar bunga keterlambatan pembayaran (compund interest ) kepada bank tempat ia meminjam”

Pada hari yang ditentukan kira – kira sekitar bulan Juni 2001, saya mengikuti test perbankan syariah ,setelah saya dinyatakan lulus test tertulis mengenai perbankan syariah , saya mengikuti test wawancara pada sore hari sekitar awal bulan febuari 2002 dengan pimpinan bank syariah cabang fatmawati yang waktu itu dipegang oleh Ibu Hanifah Hussein. Ada hal yang berkesan pada saat itu yang selalu saya ingat sampai sekarang, pada saat saya menunggu dipanggil wawancara oleh Ibu Hanifah Hussein, saya dibelikan makan malam oleh bank syariah. Selama ini saya sudah sering mengikuti berbagai test wawancara di perusahaan – perusahaan, baru saat itu saya dibelikan makan malam oleh bank syariah, memang kalau dilihat harganya tidak mahal tetapi perhatiannya itu yang sangat membuat saya berkesan karena waktu itu saya memang lapar setelah kesasar waktu mencari alamat bank syariah tsb di jalan RS Fatmawati.

Berikut ini wawancara saya dengan Ibu Hanifah Husein yang masih saya ingat :

“ Saudara Ali , sebelum ini kamu bekerja di mana “ kata bu hanifah memulai wawancaranya.

“Saya bekerja di Indomaret”

“Kamu disana sudah di gaji berapa ?” ucap bu hanifah sambil memperhatikan saya

“ Rp.1.100.000.-“ jawab saya

“ Sudah lumayan besar ya, tetapi sayang kamu bekerja dengan orang lain kalau kamu bekerja di sini kami hanya bisa menggaji kamu Rp.590.000,- tetapi kamu disini bisa ikut berjuang menegakkan ekonomi syariah di Indonesia”

Setelah selesai wawancara , sepanjang perjalanan pulang saya menjadi bimbang karena gaji yang diberikan di bank syariah sangat kecil padahal istri saya sedang hamil anak yang kedua. Hal ini saya bicarakan dengan keluarga di rumah, atas saran istri dan mertua saya akhirnya saya memutuskan untuk pindah kerja dari Indomaret ke Bank Syariah pada tanggal 7 Febuari 2002. Bagian personalia bank syariah seperti tidak percaya kalau saya memutuskan pindah dari Indomaret ke bank syariah alasannya karena gaji yang diberikan bank syariah lebih kecil daripada gaji di Indomaret. Saya bilang kepada bagian personalia untuk meyakinkannya kalau Allah, SWT memberikan rezeki itu tidak hanya dari gaji bekerja di perusahaan.

Memang tahun – tahun awal saya bekerja di bank syariah agak berat dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari – hari. Tetapi sekarang tahun 2008, setelah saya menjalani pekerjaan di bank syariah selama 6 tahun seiring dengan pertumbuhan bank syariah tempat saya bekerja semakin pesat saya merasakan keberkahan hidup dan kesejahteraan hidup saya dan keluarga saya meningkat, bisa memiliki rumah yang diberikan bank syariah dan kendaraan motor yang diberikan koperasi karyawan tempat saya bekerja. Walaupun saya masih membayar dengan mencicil ke bank syariah yang terpenting adalah saya dan keluarga saya sudah tidak lagi tinggal di rumah kontrakkan yang sering bocor waktu musim hujan dan banyak binatang kelabangnya

Sebenarnya ada yang paling berharga daripada gaji , rumah dan motor itu semua yakni kepuasan batin yang tidak bisa diukur dari besarnya gaji ataupun materi lainnya karena di bank syariah saya lebih leluasa menjalankan ibadah agama islam di kantor, suasana kekeluargaan yang sangat erat antara sesama teman di kantor., bisa menimba ilmu perbankan syariah dan bisa membantu mensosialisasikan perbankan syariah di tanah air. Hal – hal inilah yang menyebabkan rasa cinta saya bekerja berlabuh di bank syariah, yang mana rasa cinta itu tidak ada ketika saya bekerja di Indomaret selama 6 tahun juga,dari tahun 1996-2002.

Saya memanjatkan puji syukur kepada Allah, SWT atas segala nikmat yang telah diberikan kepada saya dan keluarga selama saya bekerja di bank syariah dan memohon kepada Allah, SWT agar selalu bisa mensyukuri nikmat – nikmat-Nya. Amiin


Jakarta, 25 April 2008

Al-Faqir



Alihozi77.blogspot.com


1 komentar:

ubaneste mengatakan...

pak. koq tes tulis bulan juni, baru di panggil tes wawancara bulan februari sih? lama bener ya?


oh ya, kalau tes tulis buat masuk bank syariah itu seperti apa ya pak?

ohya, perkenalkan nama saya Irpan, dari bogor

ubaneste@yahoo.com